Rabu, 14 Desember 2011

POSTER EVENT ROCK DI SURAKARTA


Selain mempunyai keberagaman budaya, kota Surakarta atau yang lebih dikenal dengan sebutan kota Solo mempunyai event yang digelar sepanjang tahun. Event tersebut antara lain :


ROCK IN SOLO
Dihelat pertama kali sejak tahun 2004 silam, kini gelaran Rock In Solo sudah memasuki edisi kelima dengan tajuk “Rock In Solo: Heritage Metal Fest 2011”. Digagas oleh the ThiNK sebagai sebuah kelompok kerja yang intens dalam helatan subkultur di kota Solo dan bekerjasama dengan Tecma Advertising, “Rock In Solo: Heritage Metal Fest 2011” akan dilangsungkan di Alun-alun Utara Solo pada 17 September 2011.
Berbeda dengan gelaran di edisi-edisi sebelumnya, “Rock In Solo: Heritage Metal Fest 2011” akan menggunakan 4 panggung dengan barisan penampil sebanyak 40 band yang tersebar dari seantero pulau Jawa. Telinga pengunjung akan dimanjakan gempuran musik cadas dari pagi hingga malam hari.
Selain itu gelaran kali ini juga akan terbagi dalam tiga fase, yaitu Rockducation yang berupa seminar santai membahas seputar industri musik cadas di 7 kota di pulau Jawa, Rocklight yang akan diadakan di salah satu pojok tersohor di kota Solo dalam bentuk video mapping dan yang terakhir adalah Rockfest.
Bersiaplah menjadi bagian dari sejarah metal fest terbesar di Jawa Tengah!
rock in solo 2004
rock in solo 2007

rock in solo 2009

rock in solo 2011





rock in solo 2010































SURAKARTA METAL HARD FEST
surakarta metal hard fest #2 2011


















SOLO HARD FEST
solo hard fest #1 2010



















SOLO HARD FEST #2

solo hard fest #2




Selasa, 06 Desember 2011

SURAKARTA ROCK

SOLO KOTA ROCK
 


Surakarta atau yang lebih dikenal dengan nama kota Solo juga dikenal dengan nama "Solo kota Rock" hal ini terbukti dengan munculnya band-band beraliran rock dan event rock yang berskala internasional. Band-band asal kota Solo seperti:
DOWN FOR LIFE


 Band metalcore asal kota Solo, Jawa Tengah, Down For Life tengah menggarap album kedua mereka setelah album studio perdana Simponi Kebisingan Babi Neraka (2007) yang berhasil terjual 1000 keping pada 2008. Telah diberitakan sebelumnya, album tersebut rencananya akan diberi judul Simponi II : Himne Perang Akhir Pekan.


Berbeda dengan album pertama yang berisi banyak kemarahan, di album kedua yang rencananya akan dirilis awal 2012 itu Down For Life akan menuangkan pengamatan mereka terhadap realitas. Baik itu kehidupan masyarakat Solo pada khususnya, maupun realitas global pada umumnya.


“Album pertama lebih marah dan semacam perkenalan, untuk yang sekarang lebih bijak dalam penyampaiannya,” kata vokalis Down For Life, Stephanus Adjie yang biasa dipanggil Adjie, saat kami hubungi pada Jumat, 26 Agustus 2011. “Banyak cerita tentang kehidupan kota Solo dari sudut pandang kami, juga tentang kami sendiri dan sekitar. Termasuk alam juga.”


Salah satu tema yang sempat dibocorkan oleh Adjie ialah mengenai “modernisasi yang kurang bertanggungjawab.” Down For Life akan menyuarakan ketidakpuasan mereka pada kekurangbijakan penggunaan teknologi yang menurut mereka mengubah perilaku dan karakter masyarakat.


“Seperti dalam lagu ‘Tech(no)logic.’ Itu tentang penggunaan teknologi yang kurang bijak. Itu terinspirasi dari maraknya social media,” imbuh Adjie lagi. “Social media yang seharusnya membantu kita dalam berkomunikasi, sekarang seakan malah menjadi agama baru. Social media sangat bermanfaat kalau penggunaannya bijak.”
“Tech(no)logic” adalah contoh track di mana Down For Life akan berbicara mengenai realitas global. Sedangkan beberapa lagu yang akan lebih menyentuh isu kehidupan masyarakat Solo, menurut Adjie, adalah “Village to Privillege,” “Pasukan Babi Neraka” dan “Pesta Partai Barbar.”
“’One Town One Crown’ juga representasi kota Solo secara tidak langsung,” tambahnya lagi.


Soal perubahan musikalitas, band yang terbentuk pada awal tahun 2000 itu akan bermain dalam durasi lebih lama pada setiap lagunya. Menurut Adjie, lagu terpanjang mencapai sekitar delapan menit—di mana lagu terpanjang mereka pada album pertama, “The Beginning,” hanya mencapai lima setengah menit.


Sejauh ini band yang pada 2010 silam ditinggal hengkang dua gitaris kakak beradik Imam Santoso dan Sigit Pratama itu baru merampungkan take drum di Studio Pengerat, Yogyakarta, dengan sound engineer Pak Ting (Shaggydog, Something Wrong, Captain Jack). Selanjutnya, mereka akan melanjutkan untuk merekam bagian bass di studio yang sama pada 5 September mendatang.


Down For Life adalah salah satu penampil tuan rumah pada festival musik metal terbesar di Jawa Tengah selenggaraan the ThiNK dan TECMA Advertising, Rock In Solo 2011, yang akan berlangsung pada 17 September 2011 mendatang di Alun-Alun Lor, Solo. Selain Adjie, formasi Down For Life terkini adalah Moses Rizky (gitar), Rio Baskara (gitar), Ahmad ‘Jojo’ Azhari (bass) dan Wahyu ‘Uziel’ Jayadie (drum).
Sumber : http://rollingstone.co.id/read/2011/08/28/171558/1712962/1093/down-for-life-soroti-kehidupan-kota-solo-di-album-kedua
Dengarkan lagu-lagu Down For Life disini :
Lihat video Down For Life disini :


SPIRIT OF LIFE
 Kebanggaan kami sejak tahun 2002,di awali dengan sekumpulan remaja dari SCHC&Melodic Area yang suka meniru tanpa menjiplak dari band macam SPIRIT84,AGNOSTIC FRONT,MINOR THREAT,BOLD,HATEBREED,EARTH CRISIS..sampai SLAYER.
Dan kami sudah mengalami proses yang cukup panjang untuk bertahan dan berkorban di band ini,dari susah sampe senang seperti hal nya "Roller Coaster". Karena bongkar pasang personel untuk mempertahankan band ini akhirnya di tahun 2007 kami baru bisa mengeluarkan Album pertama kami yang bertajuk "where There is life, There is Hope".
dan juga beberapa Kompilasi Album dengan Band2 macam Down For Life,Siksa Kubur,Crucial Conflict,Screaming Factor, Komunal.
Di Tahun 2010 ini kami berencana akan mengeluarkan Album ke-2 kami, yang beberapa materinya sudah ikut di Kompilasi "The Gank Is Back" dengan Band2 Macam Tendangan Badut,Made To Resist,Underdog.
SPIRIT OF LIFE bukan cuma sekedar band ataupun sepenggal kalimat semboyan, tetapi kami menganggap ini sebuah pergerakan. Pergerakan menuju hidup yang lebih baik dan dengan Spirit Of Life membuat kami selalu ber energi sekaligus memberi kami semangat juang kami untuk menghadapi kehidupan yang tidak menentu ini. STOP TALKING, START WORKING!!! HARDCORE !!
sumber :



Dengarkan lagu-lagu Sprit Of Life disini  


NEVER AGAIN
 sumber:
NOTHNG SPECIAL
www.myspace.com/nothingspecial13 
Awal Yang Tak Spesial Memutuskan bernama Nothing Special dengan harapan ingin menggapai hasil yang maksimal. “Bukan tugas kami untuk menentukan atau mengklaim kami ini ber-genre punk, hardcore atau melodic punk!” merupakan statement mereka yang menolak untuk mendefinisikan apa yang mereka mainkan. Meski sesungguhnya tipe musikal yang mereka mainkan mengarah pada term yang amat akrab sekali dengan siklus punk rock, ialah melodic punk! Menawarkan komposisi musikal yang catchy ‘yet melodic. Sempat merilis debut seminal albumnya di tahun 2005 yang lalu yang diberi judul “Straight A Head” dan dirilis oleh label Sinkink records. Sebelumnya mereka juga pernah menorehkan dokumentasi karyanya yang masih berformat single dengan nama “Love So Sweet or Suck” yang masih self released. Kemudian setelah itu barulah mereka join dengan band-band dari Solo lainnya, seperti Batman Stroke, Automatic dan Blues Clues di dalam rilisan milik Biru Production dengan format 4 way split album bertajuk “Fast For Fucking Fun”. Sejak saat-saat inilah nama Nothing Special cukup menjadi langganan di pensi-pensi SMU di kota Solo. Tak cukup dengan hasil tersebut, mereka kembali berkontribusi di berbagai kompilasi diantaranya seperti “Cadas Tanpa Batas” dan “Pang… bib… bib… bib” yang dirilis dibawah atap Dapross records. Di tahun 2006, band yang dihuni oleh Codot [Vokal], Conel [Lead Guitar/Vokal], Risma [Bass] dan Agoes[Drum] ini sudah mengeluarkan album keduanya yang di beri title “My Sweet Revenge” diisi sebanyak 9 track lagu di dalamnya. Dari sini bisa terlihat bahwasannya NS memang memiliki harapan lebih guna untuk tetap eksis dan jauh dari kata stacknan. Mencoba untuk berlawanan dengan kata Nothing Special sendiri dan menepis harapan untuk mati..
NOTHING SPECIAL
Codot : Vocal/Guitar
Conel : Guitar
Risma : Bass
Agoes : Crum
For Booking Contact : 08562817423 ( Rizma Rock )
sumber :
sumber:


BANDOSO
BANDOSO derived from Javanese language, means Keranda Mayat in Indonesian or Bier in English.
Formed in the end of 1999 and hailing from Solo, Indonesia. In 2004 the band has released first album "Kegelapan dalam keabadian" produced by Holyflesh Record.
Now, BANDOSO in complete formation and we are ready to burn every gigs! ...
DISCOGRAPHY:
1. Kegelapan dalam keabadian (2004)
2. Totally Destroy Manahan (Live at Manahan park) DVD (2007)
3. Union Of Eastern Legacy (2007) Recluse Production (Compilation CD)
Contact: mystical_bandoso@yahoo.com
twitter ; @bandoso_troops

sumber : 
www.reverbnation.com/bandoso 


YOUTH DISORDER
sumber foto :http://www.myspace.com/youthdisorderhardcore
Berawal pada pertengahan 1999 yang awalnya “conel” yang sebalumnya bermain di “Big Riot”,dan “Danang” yang sebelumnya bermain di “Spidol ska” memutuskan membuat band Hardcore.mereka mengajak Eko Bfl “Abatoir noises” yang kebetulan kita dulu sering nongkrong2 di studio dolby bersama teman2 big riot,Kita mengajak Fajar kethek untuk mengisi pada gitar.pada awalnya kita memakai nama “Low IQ” dengan membawakan lagu2 dari Warzone.Setelah berjalan bebrapa lama Fajar keluar dari band,dan kemudian di gantikan oleh “codot” yang sebelumnya bermain di “My own circle” dan sejak itu nama Low IQ di ubah menjadi YOUTH DISORDER.

Line up YD 1999-2001 : conel (voxx”), Codot (Guitar), Danang (Bass), Eko bfl (drum).mereka membawakan lagu2 dari “Sick of it all” dan beberapa lagu sendiri.
Youth Disorder juga pernah mengeluarkan demo tape dan sempat di putar di radio2 local di Solo.

Pada tahun 2001 Youth Disorder telah berkontribusi di acara yang di gekar oleh SCHC dengan tajuk “FUCKLENTINE”. Dan beberapa bulan setelah acara itu Youth Disorder sempat vakum cukup lama.
Dan pada akhir 2004 Conel dan Codot kembali mengaktifkan kermbali Youth Disorder dengan mengajak Budi (SPIRIT OF LIFE), Santo (TODAY IS STRUGGLE-Malang) untuk kembali memainkan Oldskull HC di saat menjamurnya band2 Hardcore yang berubah jadi Metalcore…hehehe..:P
Line up YD 2004-2006 : Budi (voxx), Conel (guitar), Santo (Drum). Dan kami sering tampil di gigs2 HC di kota Solo maupun Luar kota, yang salah satunya di acara “Back On Track” yang di Organisir oleh Halang Rintang Records (Yogyakarta).

Sejak saat itu YD mulai aktif kembali, kami juga sempat ikut dalam sebuah kompilasi “CADAS TANPA BATAS” rilisan Dapross Records 2006 dengan band2 seperti : SPIRITOFLIFE,DOWN FOR LIFE,SIKSA KUBUR,AK47,Etc. Dan pada akhir tahun 2006 ada pergeseran line up dengan Masuknya “Cicil” (ex-LIFE FOR ANYTHING ELSE) menggeser posisi Budi pada vocal, dan Budi beralih ke posisi Gitar.

Line Up YD 2006-2007 : Cicilia (voxx), Conel (guitar), Budi (guitar), Codot (Bass), Santo (drum).
Pada pertengahan 2007 lagi-lagi YD mengalami pergantian personil yang dikarenakan Cicilia harus menikah dan kembali ke Kota asalnya. Posisi Cicil di gantikan oleh Leak (seorang Komikus dan Perupa) yang kebetulan dia sangat intertest dengan band2 Oldkull Hardcore juga….
Line Up YD 2007-2008 : Leak (voxx), Conel (guitar), Budi (guitar), Codot (Bass), Santo (drum). Dan pada posisi ini akhirnya YD telah menelorkan Album pertama mereka yang, di Album ini semua lagu2 YD yang pernah di recording kita bikin jadi sebuah Album Biography yang di bawah naungan KIDFIGHTER RECORDS. Dan tepatnya pada hari Sabtu 8 November 2008 YD telah menggelar Lounching Album, yang juga telah mengundang band2 tamu seperti STRAIGHT ANSWER, SCREAMING OUT, HIGAIN PROTEST, dan beberapa band local Solo yang di persembahkan oleh Kidfighter Records. Pada akhir tahun 2008 Santo & Codot mengundurkan diri dari YD buat bekerja di luar kota, dan posisi mreka di gantikan oleh Kamjie (PAYBACK) & Cemre (KINTHIL KIBINK).
Line Up YD 2008- Sekarang : Leak (voxx), Conel (guitar), Budi (guitar), Cemre (Bass), Kamjie (drum).








SEJARAH MUSIK ROCK INDONESIA


Sejarah Musik Rock Indonesia
Oleh : sindhu
DOWN FOR LIFE


Musik rock di Indonesia mulai menjejak pada tahun 1970-an. Dan kemunculannya pun tidak bisa dilepaskan dari para pionir mulai dari Giant Step, God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy, Super Kid, Terncem, AKA/SAS, Bentoel, hingga Rawe Rontek.

Tapi sebelum tahun 1970-an, sebenarnya sudah ada sebuah band bernama The Rollies, yakni grup band beraliran jazz rock yang dibentuk di Bandung dan menjadi kebanggaan Kota Kembang pada tahun 1967, bahkan sempat populer hingga awal 1980-an. Para personelnya terdiri dari Bangun Sugito (vokal), Uce F. Tekol (bas), Jimmy Manoppo (drum), Benny Likumahuwa (trombon), Delly Joko Arifin (keyboards/vokal), Bonny Nurdaya (gitar), dan Teungku Zulian Iskandar (saksofon).

The Rollies adalah kelompok rock tertua Indonesia dan termasuk grup yang paling sering mengalami bongkar pasang pemain. Dalam perjalanannya, grup yang telah merintis ke dunia rekaman pada tahun 1967 ini sempat menjadi grup papan atas yang disegani penonton Bandung, Jakarta, Medan, dan Malang. Banyak yang menganggap The Rollies sebagai peletak dasar band rock Indonesia yang telah memberikan kontribusi bagi musik Indonesia masa kini.

Giant Step
Nama Giant Step memang tidak sefenomenal dan melegenda seperti halnya The Rollies atau God Bless. Meski demikian, grup era 1970-an asal Kota Bandung ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya band rock Indonesia pada masa itu yang paling tidak suka membawakan lagu-lagu orang lain atau grup lain.

Dengan kata lain, Giant Step merupakan band rock yang berani "melawan arus" pada masa itu. Ketika band-band rock pribumi lain gemar membawakan lagu-lagu karya The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, atau Grand Funk Railroad, Giant Step justru lebih bangga membawakan lagu-lagu karya mereka sendiri.

Mereka juga termasuk band rock yang lumayan produktif. Setidaknya ada tujuh album yang dihasilkan dalam kurun waktu 1975-1985. Tentu bukan hanya itu, Giant Step pun termasuk dari sedikit band rock pribumi yang berkiblat pada jenis musik progresif  yang pada masa itu lebih sering disebut sebagai art rock, seperti yang diusung grup-grup Inggris macam King Crimson, Jethro Tull, Pink Floyd, Gentle Giant, Yes, Genesis, dan ELP (Emerson, Lake, and Palmer). Benny Soebardja dan Albert Warnerin adalah dua orang yang membidani kelahiran Giant Step pada awal 1970-an di Bandung, kota yang sering dijuluki sebagai gudangnya para seniman musik yang kreatif.

God Bless
Setelah The Rollies dan Giant Step, God Bless gantian menyandang predikat sebagai grup band rock papan atas di Indonesia pada masa itu. Bahkan bisa dibilang, God Bless adalah raja panggungnya musik Indonesia. God Bless mendeklarasikan diri sebagai grup band rock pada 5 Mei 1973, dengan formasi awal Achmad Albar (vokal), Fuad Hassan (drum), Ludwig Lemans (gitar), Donny Fattah (bas), dan Jockie Soeryoprayogo (keyboards).

Di antara beberapa band rock yang hadir di masa itu, seperti Giant Step dan The Rollies, God Bless bisa dibilang hampir tak tertandingi. Kendati kerap mengusung repertoar asing milik Deep Purple, ELP hingga Genesis, namun aksi panggung serta skill masing-masing personelnya boleh dibilang di atas rata-rata. Tapi karena terlalu sering menyanyikan lagu asing, gaya musik para personel God Bless sedikit banyak terpengaruh. Hal tersebut tergambar jelas dalam garapan musik album perdana mereka, “Huma di Atas Bukit”, yang cukup banyak terpengaruh sound Genesis.

Selain tidak memiliki gaya bermusik yang solid, keanggotaan God Bless juga bisa dibilang kurang solid. Sebab, dalam perjalanannya grup ini terhitung sangat sering gonta-ganti personel. Dari grup ini, nama Ian Antono mulai menarik perhatian dan menjadi gitaris pertama yang berkibar di jalur rock Indonesia.

Grup-Grup Lain
Sebenarnya cukup banyak grup band rock Indonesia yang eksis di tahun 1970-an. Tapi, lagu-lagu yang dimainkan di era itu kebanyakan bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri, misalnya lagu milik Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif itu kemudian melahirkan beberapa band Indonesia yang namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta).

Lalu, sejak awal tahun 1980-an, musik rock agak sedikit “terlupakan” lantaran booming-nya musik thrash metal di kalangan anak-anak muda, bahkan di seluruh dunia. Sejak saat itu, mulailah bermunculan warna-warna baru dalam musik rock dengan sound yang lebih garang, speed menonjol, lengkingan vokal yang tinggi, dan distorsi gitar yang lebih tebal, seiring dengan majunya perangkat efek gitar dan teknologi sound system-nya.

Pada Era 1980-an hingga 1990-an akhirnya muncul mazhab-mazhab musik heavy metal, hard rock, dan speed metal. Penampilan-penampilan musisi pada era ini tergolong "gila". Bahkan para fans-nya juga membuat geng-geng guna mendukung grup band-nya masing-masing, dan ini menjadi cikal bakal seringnya tawuran di saat live music. Pada era ini pula mulai ada fans yang melakukan head banger alias mengibaskan rambut yang gondrong atau menggoyang-goyang kepala sambil mengikuti beat lagu, disertai salam metal tiga jari (yang kemudian salam ini dipakai oleh salah satu partai di Indonesia).

Meski band-band rock di tahun 1980-an sedikit terlindas oleh roda musik heavy metal, tidak demikian halnya dengan musisi rock solo. Sebab, pada tahun 1985, muncul nama Nicky Astria dengan albumnya, “Jarum Neraka”, yang digarap bersama Ian Antono. Album itu ternyata laris di pasaran hingga terjual di atas 250 ribu kaset. Album “Jarum Neraka” itu disebut-sebut sebagai album rock Indonesia pertama yang mampu menyaingi album lagu pop dalam mendobrak angka penjualannya. BASF Awards menganugerahi album ini sebagai album rock terlaris di tahun yang sama.

Roxx, Sebuah Kegairahan Baru
Pada tahun 1980-an juga di Indonesia muncul sebuah kegairahan baru dalam musik rock. Sebuah grup band bernama Roxx dianggap sebagai icon kegairahan baru tadi. Roxx adalah grup cadas era 80-an yang pernah menjadi fenomen pada masanya. Mereka pun dianggap sebagai grup yang paling beruntung karena dengan mudah bisa melakukan rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Kemudahan itu bisa mereka raih setelah menjadi salah satu finalis “Festival Rock Se-Indonesia ke-V”. Bagi Roxx, mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk pada saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia.

Saat itu, stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock atau metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya, dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Sebab, mereka punya program bernama “Rock N’ Rhythm” yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB.

Pada era 1980-an pula para pencinta musik rock mencicipi masa-masa kejayaan di seluruh Indonesia. Tetapi kejayaan itu tidak bertahan lama lantaran para fans masing-masing band yang memiliki geng-geng-nya sendiri-sendiri mulai bersikap anarkis dan mau menang sendiri. Mereka ingin diakui sebagai geng yang terkuat, terbesar, dan anggotanya terbanyak. Sejak saat itu mulailah setiap pentas musik rock  diwarnai dengan tawuran, kekacauan, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa.

Musik Independen
Memasuki era 1990-an, muncul gerakan baru dalam industri musik Indonesia yang independen. Gerakan ini muncul karena begitu banyaknya artis dan grup yang tak berhasil menembus perusahaan rekaman besar atau major label. Gerakan independen ini muncul juga karena para pemusik tak rela kreativitasnya diutak-atik dan didikte oleh perusahaan-perusahaan rekaman yang besar.

Gerakan independen ini digagas oleh kelompok rock asal Bandung, PAS Band, yang bergerilya memasarkan album mereka sendiri. Ternyata, usaha PAS Band berbuah sukses. Gerakan independen ini pun tak hanya berhenti di situ, malah terus merambah ke mana-mana. Beberapa grup musik independen ini malah melakukan terobosan pasar secara internasional, seperti yang telah dilakukan oleh kelompok Tengkorak, Discus, dan Mocca.

Begitu riuh dan dinamis adegan musik Indonesia saat ini. Semakin yakinlah kita bahwa musik Indonesia masih tetap bernapas, masih tetap menggeliat walaupun didera pelbagai kendala.
Konser-konser besar dengan artis kaliber internasionalpun sering digelar di indonesia. diantaranya Rock in Solo dan bandung berisik.
suasana konser metal disolo


* dari berbagai sumber